Isra’ Mi‘raj antara Simbol Kemuliaan dan Kekeliruan Teologis

Isra’ Mi‘raj antara Simbol Kemuliaan dan Kekeliruan Teologis

[Info Penulis] Email: rsaldiman@gmail.com


Bulan Rajab menjadi momen penting dan bersejarah bagi umat Muslim khususnya di Indonesia, tidak hanya karena statusnya sebagai al-asyhur al-hurum (bula-bulan yang dimuliakan), namun juga karena Rajab diyakini sebagai waktu terjadinya peristiwa isra’ mi’rajnya Nabi Muhammad SAW. Pentingnya peristiwa ini bahkan diakui secara formal oleh negara melalui penetapannya sebagai hari libur nasional. Terlepas dari perdebatan mengenai kepastian waktu terjadinya isra’ dan mi’raj, banyak hal menarik yang bisa diambil hikmahnya dari setiap perayaan isra’ mi’raj di berbagai daerah di Indonesia. Setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing dalam menyambut dan memeriahkan momentum bersejarah ini, sehingga menjadikan bulan ini memiliki makna dan nilai yang berbeda dibandingkan bulan-bulan yang lain. Salah satu yang menjadi tradisi umat Muslim Indonesia di bulan Rajab adalah mengisi bulan ini dengan kajian dan cermah yang mengulas kisah perjalanan isra’ mi’rajnya Nabi Muhammad. Namun yang menjadi perhatian saya sebagai penulis artikel pendek ini adalah sebagian ceramah yang bertema Isra’ Mi‘raj di ruang-ruang publik Muslim seperti masjid, mushalla, atau majlis-majlis ta’lim, sering kali menyimpan problem teologis yang serius, meskipun dibungkus dengan semangat keimanan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad. Salah satu problem yang paling menonjol adalah pernyataan bahwa Nabi Muhammad “bertemu Allah” di Sidratul Muntaha dengan pemahaman yang berimplikasi pada pelokalan Tuhan atau pembatasan Tuhan pada temat tertentu di atas langit. Ironisnya, pernyataan semacam ini kerap dilontarkan oleh penceramah yang secara identitas teologis mengklaim diri sebagai penganut Ahlussunnah wal Jama‘ah Asy‘ariyah. Mari kita kupas bagaimana pandangan ulama Ahlussunnah al-Asy’ariyyah mengenai masalah ini. Dalam kerangka teologi Asy‘ariyah, Allah Swt. secara tegas disucikan dari keterikatan dengan arah dan tempat. Imam Abu Bakr al-Baqillani, tokoh utama mazhab Asy’ariyyah setelah imam al-Asy’ari, mengatakan ...، لِأَنَّ اللهَ تَعَالىَ كَانَ وَلاَ مَكَانَ، فَلَمَّا خَلَقَ اْلمَكاَنَ لَمْ يَتَغَيَّرْ عَمَّا كان “…karena Allah Ta'ala ada (sejak azali) tanpa tempat. Ketika Dia menciptakan tempat, Allah tidak berubah dari keadaan-Nya (yang semula tanpa tempat).” Imam al-Bayhaqi (w. 458 H) dalam kitabnya al-Asma wa al-Shifat menjelaskan واستدل بعض أصحابنا في نفي المكان عنه بقول النبي صلى الله عليه وسلم: «أنت الظاهر فليس فوقك شيئ, وأنت الباطن فليس دونك شيء» فإذا لم يكن فوقه شيء ولا دونه شيء لم يكن في مكان “sebagian ulama kami (Asy'ariyyah) beristidhlal dalam menafikan tempat bagi Allah, dengan argumentasi bahwa jika Allah tidak memiliki sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya, maka Dia tidak bertempat”. Selain itu, Imam al-Haramayn al-Juwaini (w. 478 H), salah satu tokoh penting dalam mazhab Asy'ariyyah dan guru Imam al-Ghazali, menegaskan dalam kitabnya al-Irshad ila Qawathi' al-Adillah fi Ushul al-I'tiqad: وَمَذْهَبُ أَهْلِ الْحَقِّ قَاطِبَةً أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَتَعَالَى عَنِ التَّحَيُّزِ وَالتَّخَصُّصِ بِالْجِهات "Mazhab Ahlul Haqq seluruhnya sepakat bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Tinggi dari sifat menempati ruang (tahayyuz) dan dari pengkhususan dengan arah (jihat). Berdasarkan penjelasan tokoh-tokoh utama Asy’ariiyah di atas, pernyataan bahwa Allah “ditemui” Nabi di Sidratul Muntaha, jika dipahami secara “lahiriah-spasial”, justru bertentangan dengan prinsip dasar tanzîh (penyucian Tuhan) yang menjadi jantung teologi Asy‘ariyah. Terakhir pernyataan yang disampaikan oleh Imam Ja’far Shadiq yang ditulis oleh Ahmad al-Rifa’i dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad mengatakan: من زعم أن الله في شيئ او من شيئ او على شيئ فقد أشرك، إذ لو كان على شيئ لكان محمولا، ولو كان في شيئ لكان محصورا، ولو كان من شيئ لكان محدثا. “Siapa pun yang mengklaim bahwa Allah berada di dalam sesuatu, berasal dari sesuatu, atau berada di atas sesuatu, maka ia telah terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Sebab, jika Allah dikatakan berada di atas sesuatu, maka konsekuensinya Dia menjadi sesuatu yang ditopang; jika dikatakan berada di dalam sesuatu, maka Dia menjadi terbatas; dan jika dikatakan berasal dari sesuatu, maka Dia menjadi makhluk yang bersifat baharu (ḥādith).” Dari uraian ini terlihat jelas bahwa para ulama Asy‘ariyah sejak periode awal telah menetapkan batas konseptual yang tegas dalam memahami peristiwa Isra’ Mi‘raj. Peristiwa tersebut tidak dimaksudkan untuk menegaskan adanya “tempat bagi Allah”, melainkan untuk menjelaskan kemuliaan, kedudukan serta keistimewaan Nabi Muhammad melalui maqām munājāt yakni posisi bermunajat yang tidak dianugerahkan kepada nabi-nabi sebelumnya. Dengan demikian, Isra’ Mi‘raj lebih tepat dipahami sebagai peristiwa yang berkaitan dengan kedudukan dan kemuliaan Nabi Muhammad, bukan sebagai narasi tentang tempat atau lokasi Tuhan. Oleh karena itu, penggunaan ungkapan “bertemu Allah” yang sering disampaikan oleh sebagian da‘i dalam kisah Isra’ Mi‘raj sesungguhnya memerlukan kehati-hatian konseptual karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman teologis apabila tidak disertai penjelasan yang komprehensif. Secara ḥusn al-ẓann, istilah tersebut barangkali digunakan sebagai strategi dakwah untuk mempermudah pemahaman masyarakat awam (taqrīb al-fahm). Namun demikian, pendekatan ini tetap menyisakan problem teologis. Karena itu, apabila ungkapan “bertemu Allah” tetap digunakan, maka seharusnya disertai dengan penjelasan yang lebih rinci dan proporsional agar tidak melahirkan pemahaman antropomorfis atau lokatif terhadap Allah. Selain itu, pemahaman tersebut juga didukung oleh beberapa riwayat dan kisah yang menggambarkan kemuliaan dan kedudukan Nabi Muhammad dibanding nabi-nabi yang lain. Amin al-Kurdi salah satu penulis kisah isra’ mi’raj menyebutkan bahwa kemuliaan Nabi Muhammad terlihat ketika beliau sampai di sidratul muntaha. Malaikat Jibril yang selalu menemani beliau dari awal perjalanan tidak mampu menembus tempat tersebut bahkan ia mengatakan “seandainya aku melewati temat ini niscaya aku akan terbakar”. Sejumlah ulama juga mneyebutkan bahwa ketika isra mi’raj Nabi Muhammad tidak pernah diperintahkan melepas sandalnya meskipun beliau berada ditempat yang sangat mulia. Hal ini berbeda dengan Nabi Musa ketika brmunajat kepada Allah di bukit tur sina, sebagaimana digambarkan dalam al-Quran melalui firmanNya فَلَمَّآ اَتٰىهَا نُوْدِيَ يٰمُوْسٰٓى ۙ اِنِّيْٓ اَنَا۠ رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَۚ اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى ۗ Ketika mendatanginya (tempat api), dia (Musa) dipanggil, “Wahai Musa. Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, yaitu Tuwa. Perbandingan ini semakin menegaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi‘raj bukanlah berkaitan dengan lokalisasi kehadiran Tuhan, melainkan berfungsi untuk menampilkan derajat dan kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi, yang dianugerahi maqām spiritual yang melampaui capaian nabi-nabi sebelumnya. Referensi bacaan Al-Baqillani, Abu Bakr Muhammad ibn al-Tayyib. Al-Insaf fima Yajibu I'tiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahlu bihi. Tahqiq: Muhammad Zahid al-Kawthari. Kairo: al-Maktabah al-Azhariyyah li al-Turath, 2000 M Al-Bayhaqi, Abu Bakr Ahmad ibn al-Husain. Al-Asma' wa al-Shifat. Tahqiq: 'Abdullah ibn Muhammad al-Hashidi. Jeddah: Maktabah al-Sawadi, 1993 M/1413 H. 2 jilid. Al-Juwaini, Abu al-Ma'ali. Al-Irshad ila Qawathi' al-Adillah fi Ushul al-I'tiqad. Tahqiq: Zakariya 'Umirat. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1995 M/1416 H. Al-Rifa'i, Ahmad ibn 'Ali. Al-Burhan al-Muayyad. Istanbul: Matba'ah al-'Amirah, 1307 H. Al-Kurdi, Muhammad Amin ibn Fathullah. Dhaw' al-Siraj fi Fadhl Rajab wa Qissat Mi'raj. (ضوء السراج في فضل رجب وقصة معراج). Kairo: Matba'ah Mustafa al-Babi al-Halabi, t.t.